Minggu, 06 Januari 2013

karena Aku tak tau !


Malam ini malam Minggu, aku janjian makan malam dengan Luna di sebuah restoran di pinggir pantai yang lumayan jauh dari rumahku. Kami janjian pukul 7 malam. Aku sedang bersiap-siap. Aku memakai jeans abu-abu, kaos lengan panjan garis bermotif garis kuning-hijau, dan jilbab hijau muda.
Tepat pukul 18.30, aku berangkat. Sesampainya di sana, aku langsung mencari Luna. Sepertinya, Luna belum datang. Aku duduk di salah satu kursi. Aku sudah memesan makanan untukku sendiri. Tapi hingga pukul 9 malam Luna tak kunjung datang. HP Luna juga tidak aktif. Angin malam mulai menusuk tubuhku. Disertai gerimis yang mulai turun. Aku mulai kedinginan. Akhirnya kuputuskan untuk pulang. Aku sudah terlanjur sakit hati pada Luna.
Enam hari kemudian di sekolah…
Ini hari pertama Luna masuk sekolah. Memang, setelah kejadian kemarin, Luna tidak masuk sekolah. Dan hari ini, Luna baru masuk kambali.
“Lun, kamu tega ya, sama aku?!” ujarku.
“Maksud kamu apa, Mel?” tanya Luna kebingungan.
“Ah, pura-pura ga tau lagi! Kamu lupa ya, sama janji kita untuk makan malam di restoran D’Beach?”
tanyaku.
“Ya ampun! Aku bener-bener lupa. Maaf ya, Melka…” ujar Luna.
“Katanya sahabat, tapi kok kaya gini, sih?” ujarku. Lalu meninggalkan Luna sendirian.
TEEEETT!!! TEEEETT!!! Bel pulang berbunyi nyaring. Aku berjalan lunglai ke parkiran.
“Melka!” suara Luna terdengar jelas di telingaku. Tapi aku pura-pura tak mendengarnya.
“Mel.. tentang masalah kemarin, aku minta maaf, ya?” ujar Luna memelas.
“Lun, kamu pikir dengan kamu minta maaf masalah ini selesai begitu aja? Aku sudah terlanjur sakit hati!” bentakku.
“Tapi.. Aku bener-bener lupa kalau kita janjian makan malam..” Luna memegang lenganku.
“Lupa kamu bilang? Aku tau, kamu pasti gak akan lupa. Pasti ada alasan lain dibalik semua ini! Udah, aku gak punya waktu buat berhadapan dengan masalah yang ga jelas ini!” ujarku ketus. Aku berlalu dengan sepeda motorku untuk pulang.
Dua minggu sudah berlalu. Musim hujan pun tiba. Petir menggelegar di balik awan-awan hitam. Awan-awan hitam itu bergulung-gulung di langit yang kelam. Cuaca memang sangat buruk. Tapi tak seburuk hubunganku dengan Luna. Aku dan Luna tak pernah lagi tertawa bersama seperti dulu. Kami hanya bertegur sapa sekedar menanyakan tugas atau PR. Sekarang, Luna lebih sering murung dan menyendiri di kelas. terkadang, aku sayang melihatnya. Tapi aku sudah terlanjur sakit hati dengan sikap Luna waktu itu. HP Luna juga tak pernah aktif hingga sekarang. Dan beberapa hari ini, Luna juga tak masuk sekolah. Kini aku lebih sering bermain dengan Ajeng, Sekar, dan si kembar Olla dan Ocha. Lagipula, aku merasa cocok dengan mereka.
“Mel, liat Ocha, gak?” tanya Olla padaku.
“Di kelas XI IPS kali! Si Ocha kan akrabnya dengan kakak kelas.” jawabku sambil menikmati kentang goreng ala kantin sekolahku.
“Yaudah, aku ke sana dulu, yaa.. “ ujar Olla sambil berlari meninggalkanku.
“Eh, ntar malam kita dinner di kafe, yuk!”celetuk Ajeng.
“Boleh juga idenya, Jeng.” Sahut Sekar.
“Kamu mau kan, mel?” tanya Ajeng.
“Pasti mau, dong! Tapi, kafe mana?” aku bertanya.
“Kafe Vanilla aja! Usul Sekar.
“Ok. Jam 7 malam, yaa!” sahut Ajeng. Lalu pergi dari kantin.
“Olla Ocha jangan lupa dikabarin.” Ujarku.
“Nanti aku SMS, deh.” Sekar menjauh dari kantin.
Aku mengendarai sepeda motorku menuju kafe vanilla. Jilbab putihku berkibar-kibar tertiup angin. Sampai disana, ternyata Olla, Ocha, dan ajeng sudah datang. Aku melangkah menuju meja mereka.
“Sekar mana?” tanyaku.
“Katanya agak telat.”sahut ocha.
“yaudah, kamu pesan apa?” tanya Ajeng padaku.
“Mmm, nasi goreng seafood dan jus melon aja, deh.” Kataku.
“Sorry, telat!” ujar sekar yang tiba-tiba muncul.
“Gapapa. Duduk dan pesan makanan.” Perintah Olla.
“hmm, yaa!” sahut sekar.
Kami menikmati makanan dengan ceria. Banyak candaan yang mengalir deras dari bibir kami malam itu. Tawa-tawa kecil pun menghiasi acara makan malam kami.
Hari ini, kami mendapat tugas biologi dari Bu Andita. Kebetulan, aku berpasangan dengan Luna.
“Lun.. kita kemana sekarang?” tanyaku sepulang sekolah.
“Aku tau. Kita ke Pusat Pengetahuan Alam aja.” Usul Luna.
“boleh juga. Aku aja yang bawa sepeda motornya, ya!” ujarku, lalu segera menghidupkan sepeda motor.
BRUUUMMMM!!!!!!! Aku memacu motorku.
“Aduh, Mel.. Jangan ngebut. Pelan-pelan, aku pusing nih!” ujar Luna.
“iya, deh.” Aku menurunkan kecepatan perlahan.
Saat membelok ke arah kanan, tiba-tiba muncul sebuah mobil dengan kecepatan tinggi. Aku sangat terkejut. Aku berusaha mengerem motorku. Tapi semuanya terlambat. Semuanya menjadi gelap seketika.
Semua gelap. aku meraba mataku, perban melilitinya.
“Ma, tanggal berapa sekarang?” tanyaku pada mama.
“Sayang, akhirnya kamu sadar juga. Sekarang tanggal 21 Sayang.” Ujar mama yang langsung menghampiriku.
“Kemarin tanggal 19. Artinya, aku pingsan sudah 2 hari, Ma?”
“Iya, sayang. Sayang, mama khawatir banget dengan kamu!” ujar mama sambil memelukku.
Entah kenapa, tiba-tiba aku jadi kepikiran Luna.
“Ma, Luna gimana? Dia gapapa kan?” tanyaku.
“Luna.. luna masih di ICU, Mel. Keadaannya kritis” jawab mama lirih.
“Mama, aku mau jenguk luna sekarang ma!” seruku. Lalu berusaha bangun dan duduk.
“AAWWW!” rintihku. Kepalaku masih sakit.
“Sayang, kamu istirahat dulu, ya. Nanti aja jenguk lunanya.”saran mama. Aku pun berbaring kembali.
KRIIET!! Kursi rodaku berderit saat Ajeng mendorongnya menuju ICU. Aku memang harus duduk di kursi roda karena mataku masih diperban.
“Jeng, yang lain mana?” tanyaku.
“Gatau. Tadinya sih, aku kesini dengan Sekar. Soalnya Olla Ocha ga bisa ikut.” Sahut Ajeng.
Setelah memakai pakaian khusus, kami masuk ke ICU. Aku meraba tangan luna.
“Melka, tante mau bilang sesuatu sama kamu.” Ujar mamanya Luna.
“apa tante?” tanyaku penasaran.
“Sebenarnya, selama ini luna menyembunyikan sesuatu pada kalian. Lun..luna.. mengidap leukimia sejak setahun lalu. Maafkan luna karena menyembunyikannya dari kalian.” Ujar mama luna sambil menangis. Aku terkejut sekali. Tiba-tiba, aku merasa bersalah pada Luna.
“Ja.. ja.. jadi.. Luna mengidap Leukimia!??” jeritku kecil. Mama luna mengangguk pelan.
“Dan sekarang, sudah mencapai stadium akhir..”
Tiba-tiba aku merasakan pusing yang luar biasa. Aku memegangi kepalaku.
“mel, kamu kenapa?” tanya Ajeng panik.
“Gatau, jeng. Tiba-tiba aja aku pusing banget.”
“yaudah, kita balik ke kamar sekarang ya. Kamu harus istirahat.” Ajeng langsung mendorong kursi rodaku setelah berpamitan pada tante rina (mama luna).
Sampai dikamar, aku langsung tertidur.
Seminggu sudah berlalu sejak kecelakaan itu. Tapi, perban di mataku belum juga dibuka. Aku jadi penasaran.
“Ma, perban di mataku belum bisa dibuka, ya?” tanyaku pada mama.
“Kamu yang sabar ya. Ini semua cobaan.” Sahut mama. Aku jadi bingung. Mama bukan menjawab pertanyaanku.
“Maksud mama apa?” Tanyaku lagi.
“Ka.. kat.. kata dok.. ter..”
“apa, ma?”
“kornea mata kamu.. mengalami kerusakan..”
“Maksud mama aku buta!?” mama mengangguk pelan.
“Enggak, Ma! Aku gak mau buta!!” jeritku histeris sambil menangis.
“Melka, sabar, yaa.. ini cobaan.” Ujar ajeng yang tiba-tiba masuk. Diikuti sekar, olla, dan ocha. Mama keluar dari kamarku. Aku pun menangis sepuasnya sambil curhat pada keempat temanku.
Sebulan kemudian..
Aku meraba-raba. Berusaha keruang keluarga. Aku mulai terbiasa dengan keadaan buta. Tiba-tiba, hp ku bunyi. Ada telpon masuk.
Mel ini ajeng, kerumah sakit ‘mitra sehat’ sekarang, luna lagi parah nih, tadi pagi dia pingsan. Kayaknya leukimianya tambah parah. Cepat kesini, ya. Sekarang.
aku lalu bergegas ke rumah sakit.
Setelah 4 jam aku berkumpul, tiba-tiba luna sesak nafas. Keringat bercucuran. Dokter dan beberapa suster tampak menangani luna. Sampai akhirnya, luna menyuruh mereka keluar. Mereka pun keluar dengan berat hati.
“Semuanya, Luna udah ga kuat lagi. Tolong kesini, luna pengin meluk kalian.” Kami mendekat ke luna. Aku meraba-raba menggunakan tongkatku. Akhirnya, luna memelukku. Sangat lama. Hangat, haru, dan sedih, terasa saat luna memelukku.
“Ma, pa, tolong fotoin luna. Biar kalau melka bisa lihat lagi, melka masih bisa lihat wajah luna.” Ujar luna pelan. Aku terharu dan tersenyum.
Setengah jam kemudian, akhirnya luna menghembuskan nafas terakhirnya. Kami semua sangat sedih.
Esoknya..
“Mel, ada kabar baik!” ujar mama. Nada bicaranya terdengar senang.
“apa ma?” tanyaku sambil berusaha menuju kearah mama.
“ada yang mau mendonorkan korneanya buat kamu!”
“Serius, ma? Alhamdulillah ya Allah!” ujarku.
Akhirnya, aku menjalani operasi. Seminggu setelah operasi, tante rina datang kerumahku. Ya, kini aku sudah bisa melihat lagi. Tante rina memberikan sebuah amplop bermotif hati. Katanya pemberian luna. Aku membuka surat itu.
Melka..
Mungkin saat kamu membaca surat ini aku telah tiada. Sebenarnya, malam kita janjian makan malam itu, aku tidak datang karena aku dirawat dirumah sakit karena leukimiaku. Aku tak memberitahumu karena aku tak mau membuat kamu cemas dan khawatir. Luna, aku mau bilang sesuatu, sebenarnya, aku yang mendonorkan korneaku buat kamu. Jadi, kornea di mata kamu itu adalah kornea ku. Semoga kamu senang ya. Sekarang kamu sudah bisa melihat lagi. Aku sangat senang. Melka, maafkan aku. Aku tak pernah memberitahumu tentang leukimia yang aku idap. Sekali lagi, maafkan aku..
Luna
Tanpa terasa, air mata mengalir dari mataku. Aku merasa bersalah saat memusuhi luna dulu. Maafkan aku luna, aku tak tahu kalau kamu mengidap leukimia. Aku tak tahu apa yang terjadi denganmu. Karena aku tak tahu semua ini. Maafkan aku Luna… Semoga kau bahagia…
Cerpen Karangan: Salsabila Azzahra
Facebook: Salabila Az Zahra
Hai, namaku Salsabila Azzahra. hobiku membaca, nulis cerpen atau novel, travelling, dan browsing. cita-citaku, sudah pasti jadi penulis, dokter, jadi orang sukses, dan pastinya masuk surga. aku tinggal di kota bireun, provinsi aceh. sudah dulu, ya! kalau mau ngobrol denganku lebih lanjut, add facebook ku : Salsabila Az Zahra. see you :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar