Oleh: Nofriani
Mata
itu menatap lama. Berkaca-kaca, namun bulirannya tak kunjung meluncur
dari bendungan. Bibir itu bergetar dan membiru, menggigil dalam hening.
Kening itu berkerut dan berlipat-lipat. Giginya gemeritik membendung
emosi yang telah sampai di puncaknya.
Serangkaian guratan rumit di wajah muda itu menyampaikan setunggal ekspresi memilukan; penyesalan.
Wajah itu kembali mengenang sepenggal masa lima tahun silam. Ketika violinist itu memintanya dengan lembut..
“Anakku.. Ini hadiah ulang tahun untukmu, Nak. Pertunjukannya hanya sebentar, ayah cuma minta 10 menit-mu, Nak..”
“Bohong!” Sahutnya dengan kasar. “Ayah terlalu sibuk jadi violinist! Bilang saja ayah tidak punya waktu merayakan ulang tahunku. Cari-cari alasan!”
“Nak..”
“Tidak!” Kini matanya melotot lebar-lebar. “Ibu sudah dua tahun meninggalkan kita, dan ayah masih kekanakan begini?!”
Kedua sosok itu saling pandang beberapa detik. Satu mata memandang pilu dan haru, mata yang lain menatap garang dan ganas.
Mata
merah itu perlahan menghilang bersama hentakan kaki yang kasar,
meninggalkan sosok yang tengah memangku biola tua di tepian lehernya.
Meninggalkan satu-satunya keluarga yang masih ia miliki. Meninggalkan
sosok, yang mungkin tak lagi mampu mendentingkan nada-nada dawainya.
“Neng, cepat ke rumah sakit. Bapak koma dari kemarin.”
“Hah?! Bibik kok baru bilang sekarang?!” Ia sontak.
“Maaf, Neng. Soalnya dari kemarin Neng Tia tidak bisa dihubungi. Lemah jantung bapak kambuh saat pertunjukan, Neng.”
Prang!
Telepon
genggam itu telah terjun dari genggaman, retak. Ia tak peduli. Dalam
sekejap kaki-kaki panjangnya meluncur ke rumah sakit. Gemetar dan
ketakutan. Jika ia tak lari dari rumah mungkin kini ayahnya baik-baik
saja.
Tis-tis.
Air mata itu menetes perlahan, lalu dalam sekejap bertransformasi menjadi miniatur Niagara.
Di
dalam taksi ia terngiang nada-nada indah dari gesekan biola ayahnya.
Biola tua yang mengangkat derajat mereka menjadi keluarga berada. Biola
yang mengisi hati sang ayah ketika kerinduan pada mendiang ibu datang
bertandang. Biola yang kini tengah tergeletak di sebelah dipan di rumah
sakit. Bersama tubuh kurus ayahnya, violinist yang sabar, yang tabah.
Lebih
menyakitkan lagi ketika pembantunya bercerita bahwa ayahnya telah
menyiapkan kejutan ulang tahun untuknya. Sendirian beliau menghubungi
teman-temannya, mengatur izin menggunakan aula gedung pertunjukan. Tak
lupa dikemasnya pula kado ulang tahun untuk Tia; satu set gamis merah
muda dan jilbab putih susu.
Ah..
Gadis itu terlambat.
Rumah sakit itu telah tersihir menjadi rumah duka. Didapatinya tubuh sang ayah telah mendingin. Ruh violinist itu telah berangkat meninggalkan bumi. Meninggalkan biola kesayangan yang telah kehilangan tuan.
Keheningan
biola tua itu menggoreskan cerita yang takkan sanggup dilupakan sang
puteri. Meninggalkan bekas luka, memaksanya terus mengenang
kesalahannya. Menorehkan sebuah umpama, bahwa dawai hati seorang ayah
itu seperti dawai biola. Keindahan yang tak terganti, yang jika putus
takkan lagi tersambung.
Kini,
gadis itu hanya mampu menatap podium aula gedung itu, dari kursi tempat
biasa ia duduk menyaksikan permainan ayah. Tempatnya menyaksikan tangan
ayah menggesekkan dawai-dawai dengan penuh penghayatan, penuh
kebahagiaan memandangi senyum manis puterinya dari kejauhan.
Ayah
dan biola, seperti gelas kaca dan air di dalamnya. Saling membutuhkan,
saling melengkapi. Dan keduanya begitu berharga bagi Tia, musafir yang
kehausan dan kesepian.
Dalam getir, bibir itu berujar lirih, “Ayah.. Maafkan aku..”
-Safira Khansa. Selasa, 28 Agustus 2012-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar